Beberapa Mitos yang Sebaiknya Diabaikan Saat Menjalani GMAT

Ketika kamu akan melakukan GMAT preparation, ada beberapa mitos yang berkembang seputar penulisan kata dan aturan. Sebelum terjebak dalam mitos ini, ayo cek dulu seperti apa kebenarannya.

  1. Menggunakan Passive Voice

Kamu bisa menggunakan passive voice pada GMAT. Namun, hanya gunakan untuk memberi tekanan pada penerima action daripada orang/subjek yang memberi action. Misalnya, pada kalimat Hani was given a book (by Alif). Hani merupakan penerima action, sedangkan Alif adalah pelaku action (pemberi buku). Perhatikan bahwa tak selalu pelaku action harus ditulis. Ingat saja untuk menulis kalimat pasif yang menonjolkan objek penerima. Dari contoh yang ada, kamu cukup menulis Hani was given a book. Pada tes GMAT, gunakan kalimat pasif sebisa mungkin atau gunakan variasi struktur kalimat.

  1. Menggunakan Kalimat Kompleks

Seringkali, kalimat beruntun panjang disalahsebutkan sebagai kalimat kompleks. Kalimat jenis ini bisa dilihat dari penggunaan tanda baca dan kata sambung. Contoh, he ate cookies usually he chooses candy today he decided on something less sweet. Membingungkan kan? Karena itu, jika ingin menulis kalimat majemuk (kompleks), pergunakan tanda baca dan kata sambung supaya kalimatmu jelas. Dari contoh, kalimat bisa diperbaiki menjadi “he ate cookies. Usually, he chooses candy. Today he decided on something less sweet.” Jelas kan perbedaannya?

  1. Mengawali Kalimat dengan Konjungsi (Kata Sambung)

Benarkah kata sambung if, and, so, dan but yang digunakan untuk merangkai kata tidak boleh digunakan sebagai pengawal kalimat? Ini tidak selamanya benar. Kata sambung tidak lazim digunakan di awal kalimat karena mengesankan kalimat yang tidak lengkap (fragmen). Kamu bisa menggunakan kata sambung. Tetapi, kamu tetap perlu menulis kalimat masuk akal.

  1. Selalu Menggunakan “a” Sebelum Kata Berawalan Huruf Konsonan dan “an” sebelum Vokal

Jika kamu mematuhi aturan ini begitu saja, kamu salah. Tidak semua kata berawalan konsonan dipadankan dengan a. Tidak semua kata berawalan vokal pun dipadankan dengan an. Yang perlu kamu jadikan panutan adalah pelafalan katanya. Misalnya, honest. Apakah penggunaan yang benar an honest atau a honest? An honest, karena honest dilafalkan dengan mematikan lafal h. Ada lagi, kamu dapat menggunakan a sebelum abjad dan nomer yang kedengaran diawali dengan konsonan. Contoh, the craft store had no wooden numbers left, only a one. Perhatikan bahwa one dilafalkan dengan konsonan, bukan vokal. Mudah kan membedakannya? Lafalkan saja kata itu.

  1. Memisahkan Infinitive akan Mengurangi Skor GMAT?

Infinitive merupakan kata kerja yang diawali dengan to (misal, to write). Split infinitive atau kata infinitive yang dipisah digunakan dengan cara menempatkan adverb atau frasa adverbial di antara to dan kata kerja. Misalnya, to calmly speak atau to boldly move. Sebenarnya, GMAT tidak mempermasalahkan ini. Jadi, saat mengerjakan sesi Sentence Correction kamu menemukan pilihan jawaban split infinitive atau infinitive biasa, jangan terpaku.

 

Tes GMAT yang digunakan sebagai tes masuk pascasarjana bisnis/manajemen di luar negeri terdiri dari beberapa sesi. Agar sukses mengerjakan sesi Verbal dan lulus GMAT dengan skor tinggi, kamu perlu berkonsentrasi dalam kelas kursus bahasa Inggris yang juga mengadakan GMAT preparation. Edupac di Jakarta dan Surabaya bersama Kaplan kebetulan lagi membuka Holiday Class termasuk GMAT preparation loh. Dengan Kaplan yang berpengalaman 78 tahun, bukan tidak mungkin skor GMAT-mu mencapai maksimal.

Isi Form berikut ini & dapatkan
Konsultasi Gratis